BOJONEGORO — Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) resmi menutup rangkaian program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pintar Tahun 2026 melalui kegiatan Expo dan Penutupan KKN yang digelar di Lapangan UNUGIRI, Kamis (10/9/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai ini menjadi puncak dari program pengabdian masyarakat yang diikuti 816 mahasiswa dan terbagi dalam 58 kelompok KKN, serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube LPPM UNUGIRI agar dapat diakses masyarakat luas.
Expo dan Penutupan KKN Pintar 2026 dikemas terbuka untuk umum. Dalam kegiatan tersebut, setiap kelompok KKN menampilkan hasil program kerja mereka selama masa pengabdian melalui 58 stand pameran yang tersebar di area lapangan kampus. Selain pameran program kerja, panitia juga menghadirkan bazar produk hasil kelompok KKN, mulai dari produk UMKM binaan hingga inovasi yang dikembangkan mahasiswa bersama masyarakat desa lokasi KKN. Rangkaian acara turut dimeriahkan dengan hiburan dan kesenian sebagai bagian dari perayaan penutupan program.
Mengusung tema besar KKN Pintar “Pemberdayaan Masyarakat untuk Akselerasi Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif: Menggali Potensi, Mengembangkan Destinasi”, program KKN tahun ini diarahkan pada penguatan potensi desa wisata sekaligus pengembangan ekonomi kreatif di wilayah-wilayah lokasi pengabdian mahasiswa. Selama masa penempatan, mahasiswa didorong untuk menggali potensi lokal yang belum tergarap maksimal dan membantu masyarakat mengemasnya menjadi destinasi maupun produk yang lebih bernilai ekonomi.
Sebagai bentuk perhatian terhadap keselamatan mahasiswa selama menjalankan tugas pengabdian di lapangan, seluruh 816 mahasiswa peserta KKN turut mendapatkan perlindungan program BPJS Ketenagakerjaan. Perlindungan ini diberikan mengingat mahasiswa KKN bekerja langsung di tengah masyarakat dengan berbagai risiko selama masa penugasan, sehingga aspek keselamatan dan jaminan sosial turut menjadi perhatian universitas.

Kolaborasi Lintas Program Studi
Salah satu ciri khas KKN Pintar UNUGIRI adalah pembentukan kelompok yang bersifat lintas program studi, sehingga mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ditempatkan dalam satu kelompok yang sama untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat secara bersama-sama. Skema ini turut melibatkan mahasiswa dari Program Studi Sistem Komputer UNUGIRI.
Ketua Program Studi (Kaprodi) Sistem Komputer UNUGIRI, Dwi Issadari, S.Pd., S.Kom., M.Kom., mengapresiasi pengalaman yang diperoleh mahasiswanya selama mengikuti program KKN tahun ini. Menurutnya, penempatan mahasiswa dalam kelompok lintas disiplin justru menjadi pembelajaran penting tersendiri.
“Saya melihat keterlibatan mahasiswa Sistem Komputer dalam KKN ini sangat positif. Justru karena mereka berada dalam kelompok yang lintas program studi, mereka belajar bahwa menyelesaikan persoalan masyarakat tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang. Mahasiswa Sistem Komputer membawa cara berpikir yang sistematis dan berbasis teknologi, sementara teman-teman dari prodi lain membawa perspektif sesuai bidang mereka. Dari situ terjadi kolaborasi yang menurut saya sangat baik,” ujar Dwi.
Ia menjelaskan, kekuatan utama mahasiswa Sistem Komputer dalam kolaborasi tersebut terletak pada kemampuan berpikir sistematis dan memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu penyelesaian masalah, bukan sekadar kemampuan teknis semata.
“Saya kira salah satu kekuatan mahasiswa Sistem Komputer adalah kemampuan mereka melihat persoalan secara sistematis dan mencari solusi dengan memanfaatkan teknologi. Jadi kontribusinya bukan sekadar membuat atau menggunakan perangkat teknologi, tetapi bagaimana teknologi itu bisa menjadi alat untuk membantu pekerjaan dan kebutuhan masyarakat. Ketika digabungkan dengan kompetensi mahasiswa dari prodi lain, saya berharap solusi yang dihasilkan menjadi lebih lengkap dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Dwi menambahkan, pengalaman KKN membuka mata mahasiswa terhadap banyaknya peluang penerapan teknologi untuk menjawab persoalan riil di masyarakat, mulai dari pengelolaan data hingga digitalisasi UMKM.
“Tentu sangat banyak peluangnya. Dari kegiatan KKN, mahasiswa bisa melihat secara langsung bahwa di masyarakat masih ada berbagai persoalan yang sebenarnya bisa dibantu dengan teknologi sederhana. Misalnya dalam pengelolaan data, digitalisasi informasi, promosi produk UMKM, maupun pemanfaatan perangkat dan sistem informasi. Yang paling penting bagi kami adalah mahasiswa tidak hanya berpikir, ‘teknologi apa yang bisa dibuat’, tetapi juga bertanya, ‘masalah apa yang ingin kita selesaikan’. Jadi teknologinya mengikuti kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Lebih jauh, Dwi menilai pengalaman lintas disiplin selama KKN memberikan bekal penting yang tidak selalu bisa didapatkan mahasiswa di ruang kelas, terutama dalam hal komunikasi dan kerja sama tim.
“Menurut saya, ini justru salah satu pembelajaran paling penting dari KKN. Mahasiswa belajar berkomunikasi, mendengarkan pendapat orang lain, bekerja dalam tim, dan memahami bahwa setiap bidang ilmu punya cara pandang yang berbeda. Bagi mahasiswa Sistem Komputer, pengalaman ini penting karena nanti di dunia kerja mereka juga tidak bekerja sendirian. Mereka akan bertemu dengan orang dari berbagai latar belakang. Jadi KKN menjadi ruang yang sangat baik untuk melatih kemampuan teknis sekaligus kemampuan berkolaborasi,” kata Dwi.
Di akhir wawancara, Dwi menyampaikan harapannya agar manfaat KKN tidak berhenti begitu mahasiswa kembali ke kampus, melainkan terus berlanjut baik bagi mahasiswa maupun masyarakat di lokasi pengabdian.
“Harapan saya, KKN ini jangan berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus. Pengalaman yang mereka dapatkan bisa menjadi bekal untuk mengembangkan ide dan inovasi yang lebih nyata. Bagi mahasiswa Sistem Komputer, saya berharap mereka semakin peka melihat persoalan di masyarakat dan terdorong untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi yang sederhana, tepat guna, dan berkelanjutan. Sementara bagi masyarakat, semoga kehadiran mahasiswa benar-benar meninggalkan manfaat, bukan hanya kegiatan sesaat. Jadi ada nilai yang dibawa pulang oleh mahasiswa, dan ada manfaat yang tetap dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Dwi menutup pernyataannya dengan menegaskan posisi teknologi sebagai sarana, bukan tujuan akhir dari proses pendidikan yang dijalani mahasiswa Sistem Komputer.
“Bagi kami, teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi adalah alat. Tujuan akhirnya adalah bagaimana ilmu yang dimiliki mahasiswa bisa memberi manfaat dan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan Expo dan Penutupan KKN Pintar UNUGIRI Tahun 2026 turut didukung oleh Pusat Informasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Pintar) LPPM UNUGIRI serta sejumlah pemangku kepentingan, termasuk unsur Kementerian Pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, dan program Diktisaintek Berdampak. Masyarakat yang ingin mengikuti perkembangan kegiatan KKN maupun program Sistem Komputer UNUGIRI dapat memantau melalui laman resmi unugiri.ac.id, akun Instagram dan TikTok @unugiribojonegoro, Facebook Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro, serta kanal YouTube UNUGIRI TV dan LPPM UNUGIRI.




